Minggu, 01 Mei 2016

Representasi jejak peninggalan budaya Jawa di museum Ranggawarsita



Representasi Jejak Peninggalan Budaya Jawa di Museum Ranggawarsita
Oleh : Mamluatun Nikmah

Museum Ranggawarsita menjadi salah satu wisata sejarah, dengan banyaknya peninggalan-peninggalan yang berada pada museum tersebut. Hal itu menjadikan museum Ranggawarsita sebagai salah satu wisata edukatif yang cocok untuk dikunjungi oleh para pelajar maupun wisatawan baik skala lokal maupun nasional. Museum Ranggawarsita juga sebagai salah satu tempat untuk melestarikan berbagai aset kebudayaan dari Jawa. Serta menjadi sarana pendidikan bagi generasi penerus bangsa. Peninggalan-peninggalan yang ada di sana diantaranya mulai dari zaman pra-sejarah, zaman kerajaan Hindu-Budha, zaman kerajaan Islam, alat-alat kesenian, pakaian adat di beberapa daerah dan alat transportasi pada zaman dahulu. Selain peninggalan-peninggalan budaya Jawa terdapat juga ilustrasi yang menggambarkan aktivitas masyarakat Jawa.
Koleksi peninggalan zaman pra-sejarah diantaranya koleksi batu-batuan fosil, benda arkeologi dari zaman pra-sejarah ada batu alam, batu mulia, fosil binatang purbakala seperti kerangka tubuh gajah zaman purbakala,  fosil kepala Phithecantropus tanpa rahang menunjukkan volume otaknya kecil,dan kemungkinan manusia tersebut belum berbudaya. Selain itu terdapat benda-benda rumah tangga zaman prasejarah. Ditambah lagi dengan koleksi bersejarah zaman kerajaan-kerajan Hindu-Budha , seperti arca, replika candi, prasati, perabotan kerajaan. Tak hanya itu, dipemerkan juga  benda-benda kebudayaan, seperti keris, senjata-senjeta, alat musik tradisional, dan macam-macam wayang. Selanjutnya pakaian adat yang terdapat di sana adalah pakaian adat Semarangan dan pakaian adat Kudus yang masing-masing mempunyai keunikan tersendiri. Koleksi peninggalan alat-alat transportasi seperti gerobak kerangkeng, kapal nelayan dan saradan. Sedangkan untuk koleksi pada zaman kerajaan Islam nampak pada relika Masjid Agung Demak, relika Menara Masjid Kudus, Al-Quran tulisan tangan dari Surakarta.
Di museum Ranggawarsita ada beberapa koleksi yang menampilkan berbagai budaya masyarakat Jawa Tengah yang mengandung nilai-nilai Islam. Benda yang ditampilkan merupakan perpaduan atau akulturasi dari budaya Jawa dan Islam. Contohnya pada Masjid Agung Demak yang masih berdiri sampai sekarang. Atap bangunannya yang runcing dan bertingkat-tingkat ke atas dengan tiang-tiang penopang yang besar dan tinggi. Motif-motif hias tiang bangunannya tampak berhubungan dengan kebudayaan Majapahit saat itu. Bangunan induk dan serambi juga mengadaptasi dari bentuk istana-istana Majapahit. Menara Masjid Kudus pun juga merupakan akulturasi dari budaya jawa dengan islam. bentuk atap tumpang tiga yang menggambarkan kasta manusia dibagi menjadi tiga yaitu Sudra, Ksatria, dan Brahma, yang kemudian diterjemahkan menjadi lambang keislaman seseorang yang ditopang oleh tiga aspek, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Selain itu juga dianggap sejajar dengan Syari’at, Thoriqot dan Ma’rifat. Menara Masjid kudus juga membuktikan Islam diterima dengan cara damai dan dengan baik. Kemudian kesenian Wayang juga merupakan budaya Jawa yang erat kaitannya dengan Islam. Karena dalam penyebaran agama Islam di Jawa oleh Walisongo khususnya Sunan Kalijaga, salah satu cara yang dipakai yaitu dengan menggunakan kesenian wayang. Kesenian musik Gamelan juga merupakan budaya Jawa yang erat kaitanya dengan Islam. Karena selain sebagai alat musik pengiring Wayang, Walisongo menciptakan lagu-lagu diiringi dengan musik Gamelan seperti Sinom, Mijil, dan Gambuh. Itu semua merupakan seni yang termasuk salah satu cara yang digunakan para Walisongo untuk menyebarkan agama Islam . Dari koleksi di atas bercorak Jawa-Islam, sehingga bukti kerukunan dan akulturasi Agama Islam dan Budaya Lokal (Jawa) memang ada saat itu.
Tetapi sejalan dengan tingkat moderanisasi yang tinggi budaya Jawa pun semakin tergerus oleh zaman yang semuanya serba modern. Budaya jawa yang dulu melekat dengan orang Jawa sekarang mulai ditinggalkan hingga sering muncul istilah dalam bahasa Jawa dikenal dengan “Wong Jawa neng ora Jowoni” yang artinya orang Jawa tapi tidak mengerti atau tidak bersikap seperti orang Jawa. Bahkan anak-anak muda sekarang lebih mengenal budaya Barat  dibanding budaya Jawa. Contohnya orang-orang lebih tahu lagu-lagu Barat, sedangkan lagu-lagu Jawa sama sekali tidak tahu. Lebih mengenal tokoh-tokoh dalam film Barat seperti Spiderman, Batman tetapi tokoh-tokoh Walisongo tidak mengenal sama sekali. Kesenian seperti Wayang Gamelan bahkan dianggap kuno, orang-orang lebih suka menonton konser musik dan lebih suka menonton film di bioskop. Bahkan peninggalan-peninggalan budaya Jawa, peninggalan-peninggalan bersejarah tidak mengenal sama sekali. Maka dari itu museum Ranggawarsita memegang peranan penting dalam upaya melestarikan budaya Jawa dan mengenalkan budaya-budaya Jawa kepada generasi muda supaya tidak melupakan budayanya.

                 
   Beberapa gambar koleksi di museum Ranggawarsita